Bahaya Minum Coca-Cola (juga minuman berkabonasi lain)

Assalamualaikum WR WB


alt/text gambar


                                     Coca-Cola yang sedang di pasarkan


Coca-Cola adalah minuman yang ane sukain. Tapi, di balik kesukaan itu, ada bahaya nya. Coca-Cola adalah minuman berkabonasi yang sangat populer yang di buat oleh The Coca Cola Conpany, dibuat sejak tahun 1886 Masehi. Minuman berkabonasi lain dari The Coca Cola Company adalah, Minute Maid, Sprite, Fanta dan lain sebagainya. Penelitian menunjukkan bahwa soda dan minuman manis merupakan sumber utama kalori yang tinggi. Banyak ahli gizi mengatakan bahwa Coca-Cola dan minuman ringan lainnya dapat berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan, terutama untuk anak-anak muda yang sering meminum minuman ringan. Penelitian telah menunjukkan bahwa pengguna secara teratur minuman ringan memiliki asupan rendah kalsium, magnesium, asam askorbat, riboflavin, dan vitamin A. Minuman ini juga telah menimbulkan kritik untuk penggunaan kafein, yang dapat menyebabkan ketergantungan fisik. Sebuah situs menunjukkan bahwa mengonsumsi dalam jangka panjang yang teratur menyebabkan osteoporosis pada wanita yang lebih tua (tapi tidak laki-laki). Hal ini diperkirakan karena adanya asam fosfat.
Sebuah kritik umum Coke berdasarkan tingkat keasaman diduga beracun yang telah ditemukan untuk menjadi tidak berdasar oleh para peneliti; tuntutan hukum berdasarkan gagasan ini telah diberhentikan oleh pengadilan Amerika beberapa alasan ini. Meskipun banyak kasus pengadilan telah diajukan terhadap The Coca-Cola sejak tahun 1920-an, menyatakan bahwa keasaman minuman ini berbahaya, tidak ada bukti yang menguatkan klaim ini telah ditemukan. Dalam kondisi normal, bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan keasaman Coca-Cola tidak mengakibatkan kerusakan langsung pada tubuh.
Sejak tahun 1980 di AS, Coca-Cola telah dibuat dengan sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS) sebagai bahan pembuatan. Beberapa ahli giji menyarankan untuk berhati-hati terhadap konsumsi HFCS karena dapat memperburuk obesitas dan diabetes yang lebih dari gula tebu . Selain itu, sebuah penelitian pada 2009 menemukan bahwa hampir setengah dari sampel yang diuji dari HFCS komersial mengandung zat berbahaya yaitu merkuri! Bahaya sekali! Jika kita meminum cukup banyak coca cola, betapa banyak kita makan merkuri!

Di India, ada sebuah kontroversi besar apakah ada pestisida dan bahan kimia berbahaya lain terdapat di dalam produk kemasan, termasuk Coca-Cola! Pada tahun 2003 Pusat Sains dan Lingkungan (CSE), sebuah organisasi non-pemerintah di New Delhi, mengatakan air soda yang diproduksi oleh produsen minuman ringan di India, termasuk raksasa multinasional PepsiCo dan Coca-Cola, mengandung racun termasuk lindan, DDT, yang dapat berkontribusi terhadap kanker dan gangguan sistem kekebalan tubuh. CSE menemukan bahwa India menghasilkan produk minuman ringan Pepsi telah 36 kali tingkat residu pestisida diperbolehkan sesuai dengan peraturan Uni Eropa; minuman ringan Coca-Cola ditemukan memiliki 30 kali jumlah yang diizinkan. CSE mengatakan telah menguji produk yang sama dijual di Amerika Serikat dan tidak menemukan residu seperti Setelah tuduhan pestisida dilakukan pada tahun 2003., Coca-Cola penjualan di India mengalami penurunan sebesar 15 persen. Pada tahun 2004 sebuah komite parlemen India didukung temuan CSE dan sebuah komite yang ditunjuk pemerintah bertugas dengan mengembangkan standar pertama di dunia pestisida untuk minuman ringan. The Coca-Cola telah menjawab bahwa pabrik filter air untuk menghilangkan kontaminan potensial dan yang produknya diuji untuk pestisida dan harus memenuhi standar kesehatan minimum yang sebelum Coca-Cola didistribusikan. Di negara bagian India Kerala penjualan dan produksi Coca- cola, bersama dengan minuman ringan lainnya, pada awalnya dilarang setelah tuduhan, sampai Pengadilan Tinggi di Kerala terbalik hanya memutuskan bahwa pemerintah federal bisa melarang produk makanan. Coca-Cola juga telah dituduh penggunaan air yang berlebihan di India.Minuman 
berkarbonasi macam ini mengikat rasa manis 5 sampai 7 kali! Itu artinya, 
meminum sebotol Coca Cola atau Sprite, sama artinya dengan meminum 
lima/tujuh botol teh manis! Kebiasaan minum Coca Cola dua botol sehari juga 
menjadi bagian tak terpisahkan di dalam hidupnya

Alkisah ada orang selama bertahun-tahun menjadi pecinta minuman 
berkarbonasi. Saking kecanduannya, tetangga ini tidak cukup membeli satu atau 
dua botol di supermarket atau di toko terdekat. Orang ini bahkan menelpon 
distributor minuman berkarbonasi untuk setiap minggunya memasok satu atau 
duakrat minuman berkarbonasi itu! Dalam usianya yang ke-45, orang ini sudah 
buta. Dampak langsung dari tingginya kadar gula di dalam darahnya adalah 
kebutaan yang diderita di usia yang terlalu dini! Seorang kolega dari orang itu 
pun tidak kalah serunya. Orang memiliki kebiasaan yang sama. Usianya tidak 
mencapai angka 50, dan dia harus membiarkan istrinya untuk bertanggungjawab
 sendirian mengurusi anak-anaknya yang masih kecil. Kondisi tubuhnya tidak 
lagi mampu menampung nyawanya lagi, karena tubuh itu telah dirusak oleh 
kecanduannya terhadap minuman berkarbonasi ini! Perjumpaan dengan 
sejumlah kolega itu menjadi sebuah penegasan bahwa apa yang menggerakkan 
saya untuk melakukan sebuah tindakan drastis adalah pengalaman dan 
pernyataan testimonial. Sekalipun ada begitu banyak informasi, namun 
informasi itu tidak lebih dari angin lalu yang tidak bermakna secara pribadi.

Dampak buruk dari Coca-Cola ini memang tidak menyenangkan bagi setiap 
orang, khusunya kita ya sob. Bahkan ada yang sampai menyebabkan kematian. Natasha Harris, yang meninggal tiga tahun yang lalu setelah mengalami serangan jantung, biasa minum 10 liter Coca-Cola setiap harinya. 


Jumlah ini dua kali lipat dari batas aman mengonsumsi kafein yang direkomendasikan dan 11 kali lebih banyak mengonsumsi gula dari yang direkomendasikan.



Coca-Cola sendiri telah menyatakan bahwa tidak terbukti kalau produk mereka berkontribusi pada kematian Harris.



Hasil penyelidikan petugas koroner ini diungkapkan bersamaan dengan staf Penjualan Coca-Cola yang mengungkapkan bahwa penjualan produk mereka di Eropa di China anjlok selama kuartal terakhir tahun 2012 dan mengingatkan bahwa penjualan akan lebih berat lagi di tahun yang baru ini.



Perlu Peringatan Jelas

Natasha Harris, ibu delapan anak yang tinggal di kota di sebelah selatan Selandia Baru, Invercargill ini, selama bertahun-tahun sudah jatuh sakit sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya.


Keluarganya mengatakan bahwa Harris mulai kecanduan minum Coca-Cola dan akan mengalami gejala kecanduan, seperti badan bergetar jika ia tidak minum minuman favoritnya itu.



"(Dia akan) histeris kalau kehabisan... badannya akan bergetar, seperti gejala kecanduan, marah-marah, gelisah dan kasar," kata ibu mertuanya Vivien Hodgkinson saat penyelidikan koroner setahun yang lalu.

Harris minum Coca-Cola sepanjang hari dan giginya mulai rontok akibat membusuk.

Petugas koroner David Crerar mengatakan bahwa mengonsumsi Coca-Cola telah terbukti memicu terjadinya aritmia jantung, sebuah kondisi dimana jantung berdetak telalu cepat atau terlalu lambat.
 
"Saya menemukan bahwa ketika semua bukti yang tersedia sudah dipertimbangkan, kalau bukan karena terlalu banyak mengonsumsi Coca-Cola yang dilakukan oleh Natasha Harris, tidak mungkin dia akan meninggal seperti itu," kata Crerar mengenai hasil temuannya.

Petugas koroner menghitung bahwa minum 10 liter Coca-cola sama dengan minum lebih dari 1 kg gula dan 970 mg kafein, demikian diungkapkan Television New Zealand (TVNZ).

Crerar mengatakan bahwa Coca-Cola tidak bisa dimintai pertanggung jawaban terhadap kondisi kesehatan para konsumennya yang minum produk mereka secara berlebihan.

Namun ia meminta para perusahaan minuman ringan untuk memasang peringatan yang lebih jelas mengenai resiko jika meminum terlalu banyak gula dan kafein.

Petugas koroner juga mengatakan bahwa Harris dan keluarganya seharusnya memperhatikan tanda-tanda peringatan terkait kondisi kesehatannya yang tidak baik.

"Fakta bahwa ia sudah mengalami pembusukan gigi beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia karena apa yang diyakini keluarganya bahwa pembusukan gigi itu akibat mengonsumsi Coca-Cola, dan fakta bahwa salah satu atau lebih dari satu anaknya yang terlahir tanpa enamel di gigi mereka, seharusnya dianggap oleh Ibu Harris dan oleh keluarganya sebagai sebuah peringatan," sahut Crerar seperti dikutip dari TVNZ.

Menanggapi pernyataan Crerar, melalui sebuah pernyataan Coca-Cola mengatakan, "Petugas koroner tersebut menyadari bahwa ia tidak merasa yakin apa yang menjadi penyebab serangan jantung Ibu Harris." 

"Oleh karena itu kami merasa kecewa bahwa petugas koroner tersebut telah memilih untuk memfokuskan untuk mengombinasikan antara mengonsumsi Coca-Cola yang berlebihan yang dilakukan oleh Ibu Harris dengan faktor kesehatan dan gaya hidup lainnya, yang kemungkinan menjadi penyebab kematiannya."

"Ini berbeda dengan bukti-bukti yang menunjukkan para ahli tidak sepakat dengan penyebab seperti itu."


Wah, wah, wah!!! Betapa bahaya sekali coca-cola itu. Menurut percobaan, Coca-Cola, yang dituangkan ke wc juga bisa membersihkan. Siram Coca-cola dan diamkan 24 Jam, kemudian siram menggunakan air, dan lihat! Yang tadi kotor, sekarang menjadi bersih. Satu lagi! Masukkan cecak kedalam Coca-Cola dan diamkan selama 24 Jam, dan lihat, cecak sobat pasti sudah hilang! Coca-Cola memang enak, tapi pebtingkan kesehatan sob!

Sumber : Wikipedia.  Shnews      dan       Forum Detik
Share this article :

+ komentar + 4 komentar

Anonim
25 Maret 2015 pukul 22.50

thank's info-nya

10 September 2016 pukul 23.33

Segera daftarkan diri anda dan bermainlah di Agen Poker, Domino, Ceme dan capsa Susun Nomor Satu di Indonesia AGENPOKER(COM)
Jadilah jutawan hanya dengan modal 10.000 rupiah sekarang juga !

22 Mei 2017 pukul 22.38

bener banget artikelnya

Posting Komentar

Dilarang berkomentar:
SARA, memasukkan link hidup, Pornografi, iklan, dll.
Mohon maklum

 
Support by: Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Blog Paling Serbaguna - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Template Oleh Mas Template
Di Edit Oleh Rayhan Ahmad Rizalullah